Life Worthwhile

Lucu memang kadang dunia...
Kadang senyum-senyum sendiri secara signifikan dan tiba-tiba.
Kadang tiba-tiba sedih beberapa detik setelah tertawa bahagia.
Yang paling bingung adalah sedih di saat bahagia dan ga tau mesti ketawa atau sedih.

Mungkin analoginya kaya pelawak.
Pelawak adalah seorang yang hebat menurut saya, bisa membuat orang-orang tertawa bahagia dan keluar gedung pertunjukan dengan penuh cerita.
Tapi kadang memang dia harus menghadapi realita emosinya sendiri.
Saat di belakang layar dia sedih, tapi saat kaki kanan pertamanya naik ke panggung dia harus membuat semua orang tertawa.
Ironi memang.
Kalau dia minta berhenti dan ga manggung gara-gara emosinya, membuat orang tertawa adalah tanggung jawab pekerjaannya.

Yah, memang kadang harus menelan emosi sendiri itu penting.

Tapi kadang memang filosofi "I would rather die alone covered in blood after make people laugh than die laugh alone after make people crying" itu ada benarnya juga.

Only a life lived for others is a life worthwhile.
-Albert Einstein-



4 komentar:

Hanna Fadhila | 3 Mei 2012 pukul 18.05

hats off and applause dear grandpa :D

Egie | 3 Mei 2012 pukul 18.09

HIyaha, hello there dear grandson

Hanna Fadhila | 3 Mei 2012 pukul 19.51

grandson?? heh!! grand daughter meurun ki..astaga

Egie | 6 Mei 2012 pukul 19.25

oh iya, lupa, hahaha
hey there little granddaughter